Petunjuk Pengerjaan
Bacalah kutipan cerita pendek berikut dengan saksama, kemudian kerjakan soal-soal di bawah ini untuk menguji kemampuan Anda dalam mengevaluasi tindakan tokoh berdasarkan norma dan nilai.
Jalan Buntu Sang Inovator
(1) Ardi menatap nanar purwarupa di tangannya. Benda kecil itu, sebuah sumber energi terobosan, adalah buah dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun di laboratorium sempit warisan ayahnya. Di saat yang sama, secarik kertas dari rumah sakit terasa membakar sakunya. Ibunya harus segera dioperasi, dan biaya yang dibutuhkan mustahil ia jangkau. Asa dan putus asa berkelindan menyesakkan dadanya.
(2) Di tengah kebuntuan itu, datanglah Tuan Tirtayasa, seorang konglomerat yang dikenal dengan praktik bisnisnya yang licin dan acap kali mengabaikan etika. Ia tahu tentang penemuan Ardi. "Saya akan beli penemuanmu. Lima miliar rupiah, tunai. Cukup untuk sepuluh kali operasi ibumu," katanya dengan senyum yang tak bisa diartikan. "Saya tidak perlu tahu detail teknisnya, cukup serahkan benda itu dan semua catatanmu. Anggap saja ini solusi cepat untuk masalahmu."
(3) Ardi tahu, di tangan Tirtayasa, penemuannya bisa dengan mudah dialihfungsikan menjadi senjata. Potensi destruktifnya sama besarnya dengan potensi manfaatnya. Dilema merobek batinnya: menyelamatkan nyawa ibunya dengan mengorbankan prinsip dan berpotensi membahayakan banyak orang, atau mempertahankan idealismenya namun membiarkan ibunya dalam ketidakpastian. Ia teringat pesan ayahnya, "Ilmu pengetahuan adalah amanah untuk kebaikan, bukan alat untuk menumpuk harta atau kekuasaan."
(4) Setelah semalaman bergulat dengan pikirannya, Ardi menemui Tuan Tirtayasa. "Saya tidak bisa menjualnya kepada Anda, Tuan," ucapnya dengan suara bergetar namun tegas. "Tapi saya akan mempublikasikan seluruh riset saya secara cuma-cuma (*open-source*). Biarlah seluruh dunia yang mengembangkannya secara transparan dan memastikan teknologi ini hanya digunakan untuk perdamaian." Tirtayasa tertawa sinis, menyebutnya bodoh dan naif. Namun, saat meninggalkan ruangan itu, Ardi merasakan beban di pundaknya terangkat, meski kantongnya tetap kosong dan masalah ibunya belum terpecahkan.